Kampus 1 : Jl. Karanganyar No. 574 Semarang, Telp. 024-3542444 Fax. 024-3565315
Kampus 2 : Jl. Medoho III No. 1 Semarang, Telp/Fax. 024-6747557, 6747012
eMail : sekolah@nusaputera.org

Sunday, 22 March 2015

TERIMA KASIH PAK HENDRAR..!!

Pembinaan dan Motivasi ke para siswa oleh Walikota Semarang

  • Memberi Motivasi dan Pembinaan bagi Siswa SMA, SMK 1 Teknik Komputer & Jaringan, SMK 2 Farmasi & Farmasi Industri dan Akademi Farmasi

Hari Kamis, 19 Maret 2015 menjadi saksi keriuhan dan keceriaan Sekolah Nasional Nusaputera, dikarenakan kehadiran orang nomor 1 di kota Semarang. Disambut dengan penuh sukacita dari pengalungan bunga oleh siswa TK, Barongsai dan Liong SD, serta nyanyian gemuruh yel-yel oleh ratusan siswa dari TK-SD-SMP, terlihat senyum ceria dari Walikota Semarang, Hendrar Prihadi. Tidak sabar ingin bertemu dan berdiskusi langsung dengan para siswa, Walikota bersama rombongannya langsung menuju Aula KB-TK dan menerima senyuman hangat dari para siswi SMP yang memakai pakaian Tiongkok serta menuntun Walikota untuk mengisi buku tamu.
Pengalungan Bunga oleh Siswi Toddler/PG-TK

Memberi senyum dan salam ke para siswa

Forum yang bertajuk ""Motivasi dan Pembinaan Siswa Sekolah Nasional Nusaputera oleh Walikota Semarang" ini memberikan inspirasi yang luar biasa dari siswa. Hendrar Prihadi memberikan inspirasi yang luar biasa agar siswa tidak mudah lelah dalam mempelajari apapun di dunia ini. Selain dibekali wawasan yang luas, sikap atau attitude yang baik juga menjadi kunci utama bagi kesuksesan hidup. 

Thursday, 12 March 2015

ROAD SHOW TODDLER/PG-TK NUSAPUTERA KE PERPUSTAKAAN DAERAH


  • Terima Kasih Perpustakaan Daerah..!!!
Lagi asik baca nih



Menumbuhkan minat membaca itu sangat penting, terkhusus bagi anak usia dini. Kunjungan para siswa Toddler/PG-TK ke Perpustakaan Daerah pada Jumat, 13 Maret 2015, tidak sekedar bermain dan berkeliling, tetapi para siswa juga disadarkan bahwa membaca itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan merupakan bekal untuk masa depan. Semangat membaca para siswa terlihat dari antusias mereka saat Bunda Lia (salah satu pengurus Perpustakaan Daerah) mengajak mereka bermain, berkeliling di segala ruang perpustakaan dan juga memberi kesempatan bagi anak untuk membaca. Bunda Lia juga senang menemani para siswa Toddler/PG-TK, beliau mengaku bangga anak-anak seusia mereka sudah punya minta tinggi membaca. "Saya suka dengan anak-anak, apalagi kalau mereka sudah punya minat tinggi membaca seperti para siswa ini (Toddler/PG-TK Nusaputera)" Jelas Bunda lia.
Berbaris ala kereta api, biar rapi sambil liat~liat Perpustakaan Daerah



Kegiatan road show ke perpustakaan daerah ini diakui oleh Agnes Nugraheni sebagai kepala Toddler/PG-TK, memang bertujuan menumbuhkan minat membaca bagi anak. "Kita ini ada di era digital, segala hal bisa didapat di internet, tapi jangan sampai lupa untuk mencari ilmu di perpustakaan" jelas Agnes. Selain membaca dan berkeliling, para siswa diberi kesempatan untuk bermain komputer yang berada di salah satu ruangan di Perpustakaan Daerah Jalan Sriwijaya Semarang ini.

Sssssttt.. Ternyata banyak gamenya lho

Thursday, 5 March 2015

PERAYAAN LAMPION (CAP GO MEH)

Sumber: google.com/images

Perayaan Lampion adalah salah satu perayaan tradisional di China. Perayaan lampion adalah perayaan pertama setelah Perayaan Musim Semi, jatuh pada bulan pertama tahun itu. Orang China kuno menganggap ini sebagai hari yang sangat bagus, karenanya ini merupakan hari yang dipenuhi doa, harapan, dan keinginan.

Bulan pertama kalender bulan disebut ‘Yuan’ (), dan malamnya disebut ‘Xiao’ ()maka hari ini dikenal juga sebagai ‘Yuan Xiao Jie’ (元宵节). Nama Cap Go Meh diambil dari dialek Hokkian yang berarti Hari ke-15. Sedangkan nama Perayaan Lampion (灯节, deng jie) muncul karena kegiatan utama selama perayaan ini adalah memajang lampion. Nama lainnya adalah ‘Shang Yuan’ (上元), dan nama ini diambil dari kepercayaan Taoisme. Perayaan ini dikaitkan dengan berdoa untuk kelimpahan.

Tarian Naga
 Perayaan Lampion mungkin berawal dari Dinasti Han dan berkembang selama Dinasti Tang dan Song, tapi tradisi tarian naga adalah warisan dari pemujaan Langit pada periode Dinasti Shang dan Zhou. Tarian naga mengungkapkan harapan rakyat akan kedamaian dan kemakmuran.
Sumber: google.com/images



Pada zaman kuno, orang percaya bahwa naga adalah penguasa lautan, dan karena air adalah sumber hujan, naga dianggap sebagai perantara hujan. Demikian pula hidup manusia secara tidak langsung dikendalikan oleh hasil panen, sehingga wajar bahwa naga dipilih sebagai maskot selama perayaan dan pemujaan.

‘Kepala’ naga biasanya disimpan di Kuil Raja Naga (龙王庙). Pada hari pertunjukan,  dilaksanakan ritual untuk “mengundang naga” (请龙,qing long) dengan menempelkan kepala ke tubuhnya, dan melengkapinya dengan upacara “menitikkan mata” (点睛, dian jing). Tubuh yang terbuat dari cincin bambu dihiasi dengan kain merah besar yang dilukisi sisik. Selama pertunjukan, seorang penari akan memegang permata di tiang dan menggoda naga untuk mengejarnya, memberikan kesan bahwa naga terbang di antara awan dan mempersiapkan hujan.

Pajangan Lampion
Kebiasaan menggantung lampion mulai marak selama Dinasti Han. Pada Dinasti Shui, Kaisar Yang Di akan menyelenggarakan penggantungan lampion masal setiap tanggal 15 bulan pertama selama sepanjang malam, dan ia bahkan menulis puisi tentang peristiwa itu. Selama pemerintahan Kaisar Taizong dari Dinasti Tang, Perayaan Lampion berubah menjadi pasar lampion yang hidup, dan ini diperingati secara lebih meriah pada Dinasti Song.

Legenda Perayaan Lampion dikaitkan dengan pejabat bernama Dong Fang Shuo (东方朔) selama pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han. Suatu hari, ia melihat seorang wanita istana yang depresi akan melompat ke sumur di taman. Gadis itu, Yuan Xiao (元宵), sedih karena tidak bisa bertemu orangtuanya sejak ia masuk istana.

Dong Fang Shuo pun membuat sebuah rencana. Mula-mula ia berpura-pura menjadi peramal nasib di jalan Chang’an dan menyebarkan isu bahwa dewa api akan membakar kota. Karena terganggu akan berita itu, Kaisar Wu Di mencari bantuan Dong Fang Shuo. Pejabat itu kemudian menasihati kaisar untuk memerintahkan setiap orang di ibu kota membuat lampion dan menyalakannya pada malam sebelum kunjungan dewa api. Ini adalah tipuan untuk menunjukkan bahwa kota itu sudah terbakar. Kaisar pun menyuruh setiap orang membuat lampion. Malam itu, setiap orang pergi ke jalan untuk menyaksikan pajangan lampion warna-warni yang mengagumkan. Sementara itu, orangtua dan adik Yuan Xiao datang ke Chang’an untuk bersatu dengannya.


Pada bulan purnama pertama tahun itu, harapan Yuan Xiao untuk bersatu dengan keluarganya terpenuhi. Sejak itu, berdoa untuk persatuan keluarga pada Perayaan Lampion menjadi kebiasaan.

By: Lukas Ariawan

 
Design by Wa2n